Kenapa Pengajaran Indonesia Tidak Sebaik Finlandia

International Schools

International Schools In Jakarta – Hingga ketika ini, negara yang dinobatkan mempunyai pengajaran terbaik di dunia yakni Finlandia, malah informasinya US dan Korea Selatan akan menduplikasi metode pengajaran dari Finlandia. Tampaknya, pengajaran memang segitu pentingnya hingga-hingga negara adikuasa berharap mengubah metode pengajarannya demi mendapatkan generasi penerus bangsa yang menjanjikan.

Banyak diantara mereka menemukan perbedaan antara pengajaran di Indonesia dengan pengajaran di Finlandia, seperti tak adanya PR, sederhananya durasi mencari ilmu, tak adanya ujian nasional, umur masuk sekolah 7 tahun, guru minimal S2, dan masih banyak lagi unsur lainnya. Sayangnya, upaya pemerintah Indonesia dalam menyelenggarakan pengajaran berkwalitas bagus direalisasikan dengan caranya sendiri berupa pergantian kurikulum yang terlalu “ambisius”.

Pemerintah Indonesia telah menyadari perbedaan pengajaran di Indonesia dengan Finlandia, melainkan kenapa kita masih belum dapat mendapatkan pengajaran sebaik Finlandia? Simak sebagian lima kemungkinan alasannya berikut ini.

1. Rendahnya anggaran pengajaran
Anggaran pengajaran Indonesia cuma 20% dari APBN atau sekitar 416 triliun rupiah. Ini mungkin sudah dipertimbangkan untuk dialokasikan terhadap beasiswa, BOS, gaji guru, dan tarif lainnya..

2. Renggangnya seleksi penerimaan mahasiswa keguruan
Seleksi mahasiswa untuk masuk FKIP/FIP/IKIP sebaiknya dijalankan secara ketat, dalam artian cuma mereka yang punya kompetensi atau punya indikator sebagai guru saja yang dapat lolos masuk. Sebab bukan tak mungkin, besarnya kans masuk di jurusan ini akan mewujudkan FKIP menjadi alternatif terakhir manakala calon mahasiswa sudah putus impian lantaran tidak lolos pada jurusan lain. – International Schools In Jakarta

3. Unsur sosio-kultural masyarakat
Masyarakat Indonesia yakni masyarakat yang unik. Mereka mempunyai metode tersendiri seputar bagaimana mengajar buah hati tanpa sekolah, bagaimana mengajarkan keturunannya untuk dapat hidup dengan memanfaatkan alam. Unsur sosial kebiasaan ialah salah satu alasan pokok kenapa Indonesia tak dapat sebaik Finlandia dalam hal pengajaran, karena betapapun pemerintah memberikan keleluasaan untuk mencari ilmu via Kartu Indonesia Mahir, BOS, beasiswa siswa berpretasi dan lain-lain. Apabila masyarakat menomorduakan kepentingan pengajaran, karenanya potensi buah hati yang sesungguhnya dapat dioptimalkan via pengajaran tidak dapat tereksplorasi dan berkembang. –

4. Lebih mengutamakan lamanya belajar daripada kwalitas pendidikan
Profesor Erno August Lehtinen, guru besar pengajaran dari Universitas Turku, Finlandia, sebagaimana dilansir Detik.com pada (8/10/2016) memaparkan bahwa yang khususnya dalam suatu pengajaran yakni kwalitas pengejarannya, bukan lamanya pelajaran. Apabila dikomparasikan dengan pengajaran di Indonesia akan nampak terang perbedaannya. Bahwa pelajaran dengan durasi yang lama di Indonesia membikin hasil belajar tak optimal.