Ambisi Kemenperin Melindungi Industri Baja Dalam Negeri dari Serbuan Impor

Image result for steel industry

Plat Bordes – Pemerintah dalam hal ini Kementerian Perindustrian (Kemenperin) berambisi untuk melindungi pasar industri baja di dalam negeri dari serbuan produk impor seiring dengan peningkatan kapasitas produksi di tingkat global. Untuk itu dibutuhkan upaya sinkronisasi kebijakan yang berpihak terhadap industri baja nasional mengingat potensi pasar dalam negeri yang masih prospektif ke depannya.

“Apalagi, sebagai bagian dasar pertumbuhan ekonomi di tiap-tiap negara, industri baja disebut sebagai the mother of industries yang yakni tulang punggung bagi kesibukan sektor industri lainnya, seperti permesinan dan kelengkapan, otomotif, maritim, serta elektronik,” ujar Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga Hartarto di Jakarta

Sambung ia menerangkan, produsen baja di negara-negara berkembang tengah mengantisipasi kelebihan kapasitas baja global yang mengalami surplus kepada kapasitas produksi sampai 700 juta metrik ton pada tahun lalu.

“Pada 2017, produksi crude steel secara global menempuh 1,7 miliar ton, hampir 50 persennya berasal dari China, sementara Asia Tenggara menciptakan 1,5 persen,” ungkapnya.

Situasi hal yang demikian, diproyeksi Airlangga bakal berpengaruh kepada sebagian aspek, di antaranya ialah harga, lapangan profesi, tingkat utilisasi dan keuntungan bagi produsen baja. “Kecuali itu berisiko kepada keberlangsungan industri serta berakibat pada pertumbuhan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat,” tuturnya.

Di sisi lain, Amerika Serikat sebagai negara utama konsumen baja sudah berencana melindungi industri baja domestiknya dengan menaikkan biaya bea masuk untuk produk baja impor sebesar 25%. Implementasi kebijakan AS ini dievaluasi akan serta merta memberi pengaruh permintaan dan penawaran di pasar baja global termasuk membawa efek bagi situasi produsen baja di negara-negara berkembang.

“Negara produsen baja utama lainnya, seperti Jepang, India dan Korea Selatan dapat saja kemudian membanjiri pasar Asia Tenggara. Dengan demikian, ini menjadi tantangan bagi kita untuk bersama-sama mengantisipasi hal yang akan terjadi di pasar dalam negeri dalam waktu dekat,” paparnya.

Kementerian Perindustrian mencatat, keperluan crude steel (baja kasar) nasional dikala ini hampir menempuh 14 juta ton, tetapi baru dapat dipenuhi produksi crude steel dalam negeri sebanyak 8-9 juta ton per tahun, sisanya dipasok dari China, Jepang, Korea Selatan, Taiwan, India, dan lain-lain.

Oleh sebab itu, Kemenperin kian mengasah peningkatan kapasitas produksi industri baja nasional. “Produksi industri baja dalam negeri terus dimaksimalkan dan diberi nasehat pada pengembangan produk khusus bernilai tambah tinggi, sehingga kita tak perlu lagi impor,” tegas Airlangga.

Kemenperin malahan mensupport percepatan pembangunan klaster industri baja, semisal di Cilegon, Banten yang ditargetkan bisa memproduksi sampai 10 juta ton baja pada tahun 2025. Kecuali itu, klaster industri baja di Batulicin, Kalimantan Selatan dan Morowali, Sulawesi Tengah.

Diharapkan upaya mendongkrak tenaga saing industri baja dalam negeri, Kemenperin sudah membentuk taktik, antara lainimplementasi revolusi industri 4.0 di sektor industri baja untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas.

“, pengembangan industri 4.0 ini menjadi kunci untuk mensupport industri bernilai tambah tinggi dan industri hilir berteknologi tinggi menjadi pemain kompetitif di tingkat global,” terang Menperin.

 

Artikel Lain: Besi Siku