Membangun Insan Cerdas dan Kompetitif

cerdasPengajaran bahasa (dan sastra) memang tak cukup cuma mengandalkan segi-segi taktis, seperti adanya perubahan pendidikan atau pengembangan kurikulum. Pembenaran itu sepatutnya disertai pengembangan sumber tenaga guru dan pemerkaayaan khasanah bacaan/buku bahasa (dan sastra). – saint monica school Jakarta

Pelajaran bahasa (dan sastra) yang bagus bisa melahirkan peserta ajar yang pandai mengaplikasikan bahasa secara bagus. Pelajaran bahasa (dan sastra) yang bagus bisa menghadirkan pengalaman estetik dan memaksimalkan kesanggupan bahasa peserta ajar, sekalian mensupport siswa untuk gemar membaca.

Banyak penelitian yang menggambarkan bahwa peserta ajar yang kesanggupan bahasanya tinggi ialah mereka yang banyak membaca. Ada kekerabatan yang erat antara budaya membaca dengan peningkatan kecerdasan bahasa.

Lalu, dapatkah pelajaran bahasa (dan sastra) yang bagus memaksimalkan kecerdasan sosial (interpersonal) dan kecerdasan kepribadian (intrapersonal) peserta ajar? Misalnya pelajaran sastra di sekolah. Kecuali perannya sebagai sarana pengembangan kecerdasan bahasa, sastra sungguh-sungguh potensial untuk pengembangan kecerdasan sosial peserta ajar.

Adapun peserta ajar yang memiliki kecerdasan intrapersonal ialah mereka yang memiliki kesanggupan memahami kehidupan emosi, membedakan emosionil orang-orang, Pengetahuan perihal daya dan kelemahan diri. Pengembangan “tenaga rasa dan pikir” yang tersirat dalam penceritaan dengan khayalan sebagai areanya yang selalu terus bergerak menolong perenungan perihal yang ada dalam “diri” ini.

Bila selama ini kita banyak diajar hal-hal yang berhubungan dengan fakta, sastra justru menawarkan hal lain, adalah memacu rasa, pikiran, dan khayalan personalitas.

Kementerian Pengajaran Nasional malahan sudah menawarkan perihal keterampilan hidup (life skill) hakekatnya telah lama menjadi angan-angan praktisi pengajaran dengan keinginan sanggup menyusun perubahan pola pikir, adalah suatu temuan pelajaran yang bisa menolong peserta ajar memahami teori secara mendalam melewati pengalaman belajar praktik-empirik.

Dengan membawa konsep keterampilan hidup dalam pelajaran bahasa (dan sastra), secara seketika ataupun tidak seketika, akan menimbulkan tenaga kritis peserta ajar. Membawa keterampilan bahasa dan karya sastra dengan konteks dilema dan fakta kehidupan yang ada di tentang kehidupan peserta ajar diperlukan temuan yang dilaksanakan guru, termasuk temuan-temuan dalam pengujiannya. Inilah makna kompetensi dalam pembalajaran bahasa (dan sastra), adalah menumbuhkan keyakinan untuk sanggup menjalankan sesuatu, adalah melibatkan peserta ajar untuk mengambil komponen dalam program keterampilan hidup (lifeskill).