Memang Hebat, Punya Cara Anti Banjir Terbesar Sedunia

Trip Labuan Bajo – Cara pertahanan banjir Tokyo diawali dari pembangunan bendungan, tanggul kali dan gorong-gorong dan katedral untuk mengantisipasi banjir yang kompleks. Tentu, katedralnya tidaklah diaplikasikan untuk ibadah namun cuma saja wujudnya seperti katedral.

Untuk mengunjunginya patut menuruni tangga panjang ke dalam tanah. Setibanya di ruangan besar, inilah katedral yang mempunyai puluhan pilar seberat 500 ton yang menyangga langit-langitnya.

Jepang yaitu destinasi bagi para spesialis musibah dan manajemen risiko dan katedral ini yaitu salah satu lokasi utamanya. Katedral air tersembunyi di bawah tanah sedalam 50 meter.

Namanya Metropolitan Zona Outer Underground Discharge Channel (MAOUDC). Yaitu sebuah metode terowongan sepanjang 6,3 km dan ruang-ruang silindris yang melambung tinggi yang melindungi Tokyo komponen utara dari sergapan banjir.

Tokyo dilintasi 15 sungai dengan 5 sungai ada di jantung kota yang patut dibeton sampai dasar sungainya. 10 Lagi sudah ditahan dari hulu juga menerapkan metode kanal. Urbanisasi yang tinggi, industrialisasi yang kencang dan penerapan air yang tak hati-hati menyebabkan sebagian tempat karam dan memperburuk kerentanan kota.

Jepang sudah menghadapi banjir selama berabad-abad, metode Tokyo ketika ini benar-benar diawali pembangunannya pasca perang. Topan Kathleen menyerang pada 1947, menghancurkan sekitar 31.000 rumah dan menewaskan 1.100 orang, satu dekade kemudian Topan Kanogawa (Ida) menghancurkan kota dikala sekitar 400 mm hujan dalam seminggu.

Trek, rumah, dan sentra bisnis terendam. Tiap tahunnya, rata-rata curah hujan yang dimiliki Tokyo yaitu 1530 mm, belum sebanding dengan Jakarta dengan curah hujan tahunan rata-rata sebesar 2000 mm tiap-tiap tahunnya.

Malahan pada 1950-an dan 1960-an, dikala Jepang pulih dari perang, pemerintah menginvestasikan 6-7% dari anggaran nasional pada musibah dan pengurangan risiko. Hal ini ditunjukkan Miki Inaoka, seorang spesialis musibah di Japan International Cooperation Agency (JICA).

Para perencana Tokyo patut waspada kepada tipe banjir yang berbeda-beda. Jikalau hujan lebat turun ke hulu, mungkin sungai menghancurkannya dan membanjiri tempat sentral di hilir dan menaklukkan metode drainase di tempat itu.

Sesudah sebagian dekade merancang dan membangun konstruksi non-berhenti, ibu kota Jepang sekarang memiliki puluhan bendungan, waduk dan tanggul. Di bawah tanah, Anda akan menemukan sebuah labirin terowongan bawah tanah di samping trek kereta bawah tanah dan jaringan pipa gas yang berjeda-seling kota.