Bukit Keramat sampai Laut Bening Jernih Sekali

Papagarang, begitulah nama pulau ini tertulis. Namanya gampang diingat sebab seolah terdiri dari dua kata yaitu ‘papa’ dan ‘garang’. Sebetulnya ini tidak ada hubungannya dengan papa yang garang, namun dinamai demikian sebab salah ucap.

“Dahulu nama daerah ini merupakan Pulau Keramat, berubah menjadi Papagarang setelah masuk penduduk baru. Nama itu berasal dari sebutan lokasi penggaraman ikan, yaitu ‘panggaramang,” kata Sekretaris Desa Papagarang, Ridwan (32), terhadap detikcom di rumahnya.

Pulau Keramat sebagai nama autentik Papagarang diambil dari Bukit Keramat yang ada di tengah-tengah pulau. Adapun permukiman penduduk terbangun memanjang di sepanjang pinggiran perbukitan. Ketika regu detikcom dan Selasar BRI Kapal Bahtera Seva II sandar di dermaga Papagarang, perbukitan itu berwarna hijau menghampar.

Pulau ini dihuni 1.429 jiwa dan 450 kepala keluarga. Mereka tinggal di 325 rumah. Mayoritas penduduk berprofesi sebagai nelayan. Pekerja pariwisata cuma ada tiga orang, yaitu sebagai pemandu tamasya (alami guide/ranger) di Loh Buaya, Pulau Rinca, Taman Nasional Komodo. Ridwan mengevaluasi turisme dapat dioptimalkan di sini untuk memajukan kehidupan warga.

“Selama ini Papagarang bukan tujuan khusus, jika malah ada pelancong lazimnya mereka cuma jalan-jalan ke kampung, memperhatikan warga. Namun untuk trekking ke bukit, belum pernah,” kata Ridwan.

Ada tiga tamasya favorit di Papagarang. Ketiga destinasi ini dirumuskan oleh Desa, tapi belum ada pedoman jalan atau papan nama yang dipasang di lokasi. Berikut merupakan tiga tamasya favorit di Papagarang:

1. Busan

Busan bukanlah nama daerah di Korea Selatan, tapi di Pulau Papagarang. Busan merupakan singkatan dari \\\’bukit santai\\\’. Lokasinya persis di dermaga kayu pulau ini.

Kami mencoba naik ke Busan melalui halaman belakang rumah warga. Rupanya memang belum ada trek khusus untuk naik ke atas. Bebatuan yang gampang lepas perlu dilewati untuk menempuh komponen atas.

Setibanya di atas, pengunjung dapat duduk-duduk santai di bawah pohon. Terik mentari di siang hari hilang menjadi keteduhan dengan angin sepoi-sepoin di bawawh pohon. Panorama komponen depan merupakan dermaga dan laut biru bersih. Pengunjung tidak perlu risau dengan ketidakhadiran reptil komodo, sebab binatang itu tak ada di pulau ini dan anda juga bisa melakukan komodo liveaboard.

2. Hutan bakau

Hutan bakau berlokasi di komponen pojok timur desa. Di siang hari, perjalanan menuju hutan bakau dapat membikin pengunjung mengucur peluh. Perjalanan melalui kampung wajib melewati jalan becek berakhir diguyur hujan.
Ridwan menerangkan, pohon bakau di sini sengaja ditanam oleh warga dengan koordinasi Balai Taman Nasional Komodo.

Ketika kami mengunjungi hutan bakau, keadaannya masih sekedar berupa rumpun bakau yang menghampar, tak ada dermaga daerah pengunjung dapat menembus rumpun bakau itu.

3. Lokasi snorkeling

Lokasi snorkeling ada di sebelah barat desa, di depan pasir putih yang tergelar. Spot ini dapat dicapai dengan berjalan kaki sekitar 1 km dari dermaga utama. Pengunjung perlu melalui permukiman warga, ucapkanlah ‘tabe’ atau ‘tabik’ sebagai kata permisi.

Di perjalanan, pulau indah ini seolah memberi tahu bahwa dirinya sedang punya keadaan sulit sampah, soalnya bungkus makanan dan botol plastik gampang ditemui di sudut-sudut pulau, padahal belum dapat dibilang benar-benar banyak.

Sesammpainya di pantai, aku ditemani oleh warga bernama Budi (28) ke tengah. Air laut bening bak kristal sehingga terumbu karang di bawahnya kelihatan terang. Kejernihan air di sini hampir sama dengan beningnya air minum di dispenser, kesan kebiru-biruan atau kehijau-hijauan cuma sedikit saja di spot ini. Bintang laut berwarna oranye di pasir pantai sudah berganti bintang laut berwarna biru di tengah laut. Ikan-ikan aneka warna timbul dari balik karang.